JANGAN PANDANG BUKU KOMIK SEBELAH MATA



Pada suatu sore seorang anak baru pulang dari sekolahnya. Merasa jenuh akhirnya ia pergi ke sebuah toko buku sambil melihat-lihat ada buku yang bagus atau tidak. Ternyata yang menarik perhatiannya adalah sebuah komik edisi baru dengan sebuah cerita tentang detektif remaja. Setelah membayar ke kasir ia pun membawa komik kesukaannya ke rumah untuk dibaca.

Sambil menikmati keripik kentang akhirnya ia menghabiskan sore dengan membaca komik tersebut. Siapa sangka di tengah-tengah keasyiikan ternyata bukunya langsung diambil oleh sang ibu yang memasang wajah kecut sambil membentak “baca komik terus kapan belajarnya”. Sang anak cuma bisa menggerutu ketika buku komiknya diambil. Lebih terkejut lagi ia ketika melihat rak bukunya ternyata semua koleksi komiknya juga ‘disita‘ oleh sang ibu karena dianggap sebagai racun kemalasan.

Tentu saja cerita diatas hanya cerita rekaan saja, tetapi kenyataannya memang situasi seperti digambarkan diatas sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Gambaran seperti diatas bisa dibilang lumrah karena ada alasannya. Semua orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, sehingga ketika melihat sesuatu yang dianggap “kurang mendidik” maka mereka langsung bertindak. Yang menjadi masalah adalah muncul anggapan bahwa buku komik adalah salah satu penyebab rasa malas. Yang perlu diperhatikan apakah anggapan seperti itu adalah hal yang benar. Secara pribadi saya menganggap ‘tidak benar’. Saya berkata begitu karena pengalaman masa kecil saya sendiri yang justru cukup dekat dengan komik dan untungnya orang tua tidak melarang bahkan malah mendukung.

Dulu ketika masih SD bisa dibilang koleksi komik di rumah cukup melimpah. Kebanyakan adalah komik Eropa seperti Asterix, Smurf, Lefranc, Petualangan Janggut Merah dll. Selain itu tidak sedikit juga komik Jepang alias manga di lemari. Yang cukup menarik tentang masa kecil saya dengan komik tersebut adalah justru orang tua saya sangat mendukung. Sebagai gambaran bapak saya yang kala itu bekerja di luar kota pulang tiap sore dan kadang justru beliau yang membeli komik dan dibawa pulang. Inisiatif untuk memulai menyukai buku komik justru berasal dari beliau bukan saya sendiri. Lalu apa imbas dari semua itu. Apakah hal tersebut membuat saya menjadi malas atau justru sebaliknya?


Ternyata kenikmatan membaca komik tidak Cuma berhenti pada ceritanya saja. Bisa dibilang dulu saya pertama kali mengenal seni rupa dengan lebih intens melalui buku komik. Karakter dan gambar latar yang menarik yang diperlihatkan komik tersebut seakan mengajak untuk mulai menggambar dan berkreasi. Kenyataannya adalah dulu saya justru senang menggambar sambil mencontoh beberapa gambar yang diperlihatkan buku komik yang saya baca. Selain itu alur cerita komik tertentu juga seperti mengajak untuk beraksi seperti sang jagoan sampai kadang saya berkhayal bahkan bertingkah seperti karakter komik yang saya baca. Ketika membaca komik samurai saya main pedang-pedangan sambil memakai jubah dari selimut dan berkhayal bisa menjadi samurai betulan. Dua hal tersebut, gambar dan alur cerita komik, membuktikan kalau sebuah buku komik tidak hanya sekedar hiburan tetapi justru memberi dorongan emosional untuk melakukan sesuatu selain juga memberi inspirasi untuk berkarya. Kenyataan lainnya adalah hal tersebut tidak lantas membuat prestasi sekolah menurun. Semasa SD dulu prestasi saya tetap baik dan selalu 10 besar. Bahkan ketika belajar di sekolah tidak terlalu merasa terbebani karena kebutuhan emosional sudah cukup terpenuhi, salah satunya oleh koleksi komik yang saya baca.    

Saya juga menganggap bahwa membaca buku komik bisa menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kecintaan membaca. Imbas dari hobi membaca komik semasa dulu masih kecil tetap terasa hingga kini dalam bentuk rasa senang membaca. Setelah enak dengan suatu cerita dalam komik biasanya tidak lantas puas begitu saja tetapi seperti penasaran ingin membaca cerita lain. Akhirnya apapun yang berbentuk tulisan dibaca untuk memuaskan rasa ‘dahaga’ akan bacaan tersebut, sehingga entah itu koran, majalah, novel, bahkan kadang buku yang dianggap membosankan seperti buku sejarah tetap dibaca. Kecintaan membaca dari kecil tersebut terus terbawa hingga sekarang setelah internet jadi platform bacaan utama. Kalau sudah membuka internet dan membaca artikel tertentu yang menarik bisa makan waktu sangat lama menikmatinya. Justru dengan itu pula inspirasi untuk memulai membuat blog muncul setelah beberapa artikel yang saya baca seakan ‘mengajak’ untuk memulainya. Akhirnya dari kecintaan membaca muncul pula kecintaan menulis artikel dan itu semua dimulai dari dulu ketika saya hobi membaca komik saat masih SD.

Buku komik, sebagaimana dalam cerita saya diatas, bisa berfungsi sebagai inspirator, penumbuh rasa cinta membaca dan juga sebagai hiburan. Masalahnya adalah banyak yang masih menganggap buku komik sebagai alat penghibur yang menyebabkan rasa malas. Mereka yang berpandangan demikian biasanya lebih senang menyodorkan hal-hal yang dianggap edukatif seperti buku pelajaran dan semacamnya dan itu dianggap cukup bagi anak. Padahal tentu saja anak juga membutuhkan ‘pemuas’ emosional lainnya untuk mengurangi rasa jenuh. Kalau dipikir-pikir siapa yang tidak jenuh setelah sibuk dengan pelajaran di kelas masih disuruh lagi dengan pelajaran yang sama di rumah. Secara pribadi saya menganggap sebenarnya buku hiburan seperti novel dan buku komik justru menjadi suplemen bagi pelajaran-pelajaran sekolah. Buku pelajaran di sekolah tentu mengajarkan murid untuk memahami ilmu tertentu tetapi tidak mengajarkan untuk senang membaca buku tersebut. Seandainya buku komik bisa menumbuhkan rasa haus membaca sebagaimana cerita saya diatas bukan tidak mungkin anak-anak justru senang membaca buku pelajaran tanpa harus disuruh. Apalagi saat ini juga banyak yang membuat komik edukasi dengan gambar yang menarik dan konten yang mendidik dan inspiratif. Oleh karena itu secara pribadi saya menyarankan agar tidak memandang sebelah mata sebuah buku komik.

Komentar