MENGENANG KEMABALI RADEN SALEH (bagian 2)




Dengan dukungan dari pemerintah jajahan Hindia-Belanda seorang Raden Saleh akhirnya bisa berangkat ke Negeri Belanda pada tahun 1829, tahun yang sama ketika pemberontakan di Jawa yang juga dikenal dengan Perang Diponegoro (biasanya orang barat pada masa itu menyebutnya Perang Jawa) mendekati akhir cerita.

Ada salah satu karya Raden Saleh yang terinspirasi dari kejadian Perang Diponegoro tersebut, tetapi ia sendiri tidak mengikuti peperangan tersebut hingga akhir karena sedang menjalani study seni rupa di Belanda. Perang Diponegoro sendiri dimulai dari perlawanan Pangeran Diponegoro, salah satu anggota keluarga kerajaan Negeri Yogyakarta (sekarang propinsi DIY), pada tahun 1825. Perang tersebut berakhir pada tahun 1830, setahun setelah Raden Saleh berangkat ke Belanda, ketika Jenderal de Kock berhasil menangkap Pangeran Diponegoro dalam sebuah perundingan damai di Magelang.

Semasa belajar seni di Belanda kemampuan melukis Raden Saleh semakin terasah terutama di bidang lukis potret dan pemandangan. Untuk lukis pemandangan ia belajar kepada seorang pelukis yang cukup ternama yaitu Andreas Schelfhout. Sedangkan untuk lukis potret ia belajar kepada Cornelis Kruseman. Ia memilih untuk belajar kepada keduanya karena karya mereka cukup populer di kalangan seni barat pada masa itu. Selain itu cornelis Kruseman sendiri juga sudah sering menjadi pelukis potret bagi anggota Kerajaan Belanda. Ia secara konsisten mempelajari seni lukis dan berbagai tekniknya dari kedua mentor tersebut selama 5 tahun. Selain itu ia juga mematangkan kemampuan berbicara dan menulis dalam Bahasa Belanda selama dua tahun awal masa belajarnya di negeri tersebut.   

Ada pengalaman menarik ketika ia masih mulai belajar di Belanda yaitu kejadian “Raden Saleh bunuh diri”. Ceritanya adalah suatu saat rekan-rekan sesama seniman muda yang juga belajar bersama Raden Saleh merasa kemampuan mereka tersaingi oleh kemampuannya. Karena itu merekapun melukis lukisan bunga yang amat mirip sekali dengan aslinya yang bahkan bisa mengecoh kupu-kupu dan kumbang untuk hinggap di lukisan tersebut. Setelah itu merekapun mencemooh dan menghina Raden Saleh dan merasa lebih unggul dari dia dalam hal kemampuan melukis. Raden Saleh muda pun langsung pergi dengan merasa tersinggung dan sakit hati.

Selama beberapa hari Raden Saleh terus mengurung diri di kamarnya dan tak pernah keluar. Lama-kelamaan teman-teman seniman muda yang sebelumnya menghinanya merasa tidak nyaman karena sepertinya ada yang salah. Mereka berpikir jangan-jangan tindakan mereka keterlaluan dan membuat sang seniman Indische tersebut sakit hati hingga putus asa dan melakukan hal yang terburuk yaitu bunuh diri. Rasa curiga pun muncul dan akhirnya mereka ingin memeriksa secara langsung kamar Raden Saleh.

Ternyata ketika mencoba dibuka kamarnya terkunci. Dari lubang kunci para seniman tersebut mengintip ke dalam dan terkejutlah mereka karena merasa dugaan mereka benar. Dari lubang tersebut terlihat sosok tubuh Raden Saleh yang berlumuran darah sedang terkapar di atas lantai tak bergerak seperti mayat. Rasa curiga mereka lantas berubah menjadi kepanikan setelah melihat apa yang terjadi. Mereka pun memaksa membuka masuk kamar tersebut dan setelah pintu terbuka ternyata yang muncul di depan mereka adalah sebuah lukisan mayat Raden Saleh. Belum selesai dari rasa terkejut Raden Saleh pun muncul dari persembunyian sambil mencemooh balik kalau lukisan para pemuda itu cuma mengecoh serangga sedangkan yang ia lukis bisa mengecoh mata manusia. Para pelukis muda itu pun pergi sambil merasa kecut dan malu karena ternyata kalah tanding dengan Raden Saleh.

Ia berpameran beberapa kali di beberapa kota Belanda seperti Amsterdam dan Den Haag semasa itu. Pameran lukisannya membuat banyak orang barat terkejut dan mampu menepis anggapan lama bahwa seni barat dan seni timur tidak mungkin menyatu. Kenyataannya seorang Raden Saleh yang berasal dari negeri jauh di timur ternyata mampu menampilkan karya yang memenuhi cita rasa orang-orang barat. Dengan demikian namanyapun semakin dikenal di berbagai kalangan di Belanda.

Setelah masa belajar di Belanda selesai Raden Saleh tidak lantas memutuskan untuk pulang ke tanah air, tetapi meminta agar masa tinggalnya di Eropa diperpanjang lagi. Ternyata permintaannya dikabulkan sehingga iapun bisa tinggal lebih lama di Belanda sambil mempelajari beberapa ilmu lain selain melukis. Meski begitu ia tidak mendapatkan beasiswa lagi dari pemerintah Hindia Belanda seperti sebelumnya. Tahun-tahun selama ia tinggal di Eropa tidak hanya dihabiskan di Negeri Belanda saja tetapi juga di negara lain seperti ke Dresden selama 5 tahun yang berlanjut kemudian ke Weimar, keduanya bereda di wilayah Kerajaan Jerman, ke Perancis, Italia dan Austria. Setelah beberapa tahun di Jerman ia kembali ke Belanda sebagai pelukis istana. Salah satu alasan ia berkeliling ke beberapa negara adalah karena menganggap bahwa gaya melukis di Belanda tidak murni asli dalam negeri tapi cenderung mengekor ke negara lain, terutama Perancis yang kala itu sedang populer dengan romantisme.

Ada kesan tersendiri semasa kunjungan Raden Saleh ke negara Perancis yang kelak juga mempengaruhi gaya lukisannya. Kejadian yang cukup penting adalah Revolusi Februari yang terjadi di kota Paris pada tahun 1848. Revolusi itu berbentuk unjuk rasa masa rakyat yang tidak puas akan pemerintahan monarki Perancis di bawah Louis Phillipe. Sebelumnya pernah terjadi revolusi pada tahun 1789 yang merubah Perancis dari monarki absolut menjadi republik. Setelah masa Napoleon Bonaparte Perancis memerintah Perancis negeri itu berubah menjadi monarki konstitusional dan Louis Phillipe menjadi raja ketika Raden Saleh mengunjungi negeri tersebut. Kekerasan dan sikap agresif manusia dalam revolusi tersebut selain juga tuntutan rakyat atas ketidakadilan yang terjadi sedikit banyak berpengaruh terhadap pemikiran Raden Saleh dan gaya melukisnya.  

Romantisme menjadi gaya lukis yang cukup populer, karena dipengaruhi juga oleh berbagai kejadian di masa itu. Salah satu seniman romantisme yang digandrungi oleh Raden Saleh adalah Ferdinand Victor Eugene Delacroix yang berasal dari Perancis.


Karya Delacroix yang berjudul "Kemerdekaan Memimpin Rakyat"

Lukisan Delacroix pada umumnya bersifat dramatis dan emosional ketika menggambarkan suatu kejadian. Lukisan bersifat romantisme sendiri memang pada umumnya menggambarkan berbagai kejadian secara dramatis. Karena itu sering kali romantisme lukisan seakan menjadi ilustrasi bagi kejadian yang sedang terjadi di dunia nyata, seperti pemberontakan, revolusi, pembunuhan, peperangan dan semacamnya. Obyek yang digambarkan selalu terlihat penuh aksi dan begitu dinamis. Sedang lukisan-lukisan sebelum gaya ini populer cenderung hanya bersifat fotografis yang menggambarkan pose atau obyek begitu saja tanpa ada emosi. Karena itu kadang orang terbawa suasana ketika melihat suatu tema yang diperlihatkan oleh lukisan bergaya romantisme.  

Komentar