MENGENANG KEMBALI RADEN SALEH (bagian 3)




 Selain bekeliling Eropa Raden Saleh juga sempat mengunjungi daerah padang pasir di Afrika Utara, tepatnya di Aljazair. Perjalanan ini terjadi pada tahun 1846 ketika ia bersama Horace Vernet berkunjung ke Aljazair selama beberapa bulan. Horace Vernet sendiri adalah salah satu pelukis Romantisme yang ternama pada saat itu yang banyak menggambarkan keras dan kejamnya peperangan.

Meski Cuma berlangsung beberapa bulan kondisi alam dan lingkungan yang keras yang diperlihatkan daerah tersebut memberi inspirasi bagi Raden Saleh untuk membuat beberapa karya yang menakjubkan. Diantara lukisan menarik yang diilhami kunjungannya ke Aljazair adalah lukisan
 Antara Hidup dan Mati  yang menggambarkan seorang lelaki Arab bersama dengan kuda tunggangannya sedang diserang oleh singa di tengah gurun.


Antara Hidup dan Mati, Raden Saleh

Obyek lainnya yang juga dituangkan dalam kanvas oleh Raden Saleh dalam karya-karyanya adalah gambaran hewan-hewan buas yang hidup di padang pasir, serta interaksi antara hewan tersebut dengan kehidupan manusa yang kadang digambarkan dengan kejam.
Setelah lama menimba ilmu dan berkarya di Eropa selama 20 tahun Raden Saleh pun memutuskan untuk kembali ke tanah air. Ketika itu ia sudah menikah dan memiliki seorang istri berkebangsaan Belanda yang kaya. Sayangnya setelah kepulangannya di tanah air Raden Saleh tidak meninggalkan catatan yang banyak. Yang diketahui pada masa itu adalah bahwa Raden Saleh diberi jabatan untuk menjadi konservator bagi berbagai koleksi karya seni yang dimiliki oleh pemerintah Hindia Belanda.

Meski begitu Raden Saleh tetap melanjutkan kreasi berkeseniannya dengan membuat beberapa karya lukis seperti lukisan pemandangan di Jawa dan juga lukisan potret keluarga keraton. Tentu saja sentuhan Romantisme yang dibawa dari Eropa tetap melekat dalam beberapa karya lukisnya setelah tinggal di tanah air, misal seperti
enam pengendara kuda mengejar rusa dan pemandangan jawa dengan harimau yang mendengarkan pengembara yang lewat.  
enam pengendara kuda mengejar rusa

pemandangan jawa dengan harimau yang mendengarkan pengembara yang lewat


Sewaktu menjadi konservator karya seni di Hindia Belanda Raden Saleh membangun sebuah bangunan dengan gaya konstruksi yang terinspirasi dari istana Callenberg dan memiliki halaman yang luas sebagai tempat tinggalnya. Saat ini rumah tempat tinggal Raden Saleh tersebut diubah menjadi rumah sakit PGI Cikini. Sedangkan halaman rumahnya yang luas pernah diubah menjadi kebun binatang dan sekarang menjadi Taman Ismail Marzuki.  
Kehidupan perkawinan Raden Saleh dengan istrinya yang berasal dari Belanda akhirnya berakhir ketika mereka memutuskan bercerai lalu ia menikah dengan seorang gadis anggota keluarga keraton Yogyakarta pada tahun 1867. Setelah itu pasangan ini lantas tinggal di Bogor.
Istri Raden Saleh dengan seorang pelayan

Pasangan Raden Saleh dan istrinya lantas pergi lagi ke Eropa pada tahun 1875. Mereka tidak hanya mengunjungi Negeri Belanda saja tetapi juga berkeliling ke beberapa negara Eropa lainnya, seperti Italia, Jerman dan Perancis. Sayangnya ketika berjalan-jalan ke Paris sang istri mengalami suatu penyakit yang menyebabkan pasangan tersebur memutuskan untuk pulang ke tanah air pada tahun 1878. Dua tahun kemudian tepatnya tanggal 23 April 1880 Raden Saleh tutup usia di kediamannya di Bogor dan Istrinya menyusul sang suami 3 bulan kemudian. Pemakaman Raden Saleh banyak dihadiri oleh para pembesar pemerintahan pada saat itu. Jasadnya disemayamkan di Bogor tepatnya di daerah Kampung Empang.   
Karena kedekatannya dengan banyak petinggi Belanda pada saat itu ada yang mempertanyakan tentang pemahaman nasionalisme seorang Raden Saleh. Mungkin tidak ada yang bisa menjawab bagaimana seorang Raden Saleh secara langsung menyikapi kondisi bangsa Indonesia yang saat itu berada di bawah penjajahan Belanda. Meski begitu karya yang dia buat bisa memberi gambaran tentang sikapnya terhadap kondisi para pribumi saat itu. Karya Raden Saleh memiliki karakteristik paham Romantisme yang cenderung dramatis, begitu mencekam dan kadang malah memunculkan kekejaman. Sebagaimana pada umumnya pelukis Romantisme pada abad 19 yang menyikapi ketidakadilan di sekitarnya melalui karya yang dramatis, Raden Saleh juga mengungkapkan realitas yang dianggapnya tidak adil di sekitarnya melalui karya yang ia buat. Salah satu yang cukup menonjol adalah karyanya yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830 yang akhirnya mengakhiri Perang Jawa atau Perang Diponegoro sebenarnya pernah digambarkan dalam lukisan yang dibuat oleh Nicolaas Pieneman pada tahun 1835. Lukisan itu berjudul Penyerahan Diri Pangeran Diponegoro. Kemungkinan Raden Saleh melihat lukisan tersebut tatkala masih berada di Eropa. Ketika melihat lukisan Pieneman ia sendiri merasa tidak setuju dengan penggambaran yang terjadi ketika Pangeran Dipenegoro ditangkap pada lukisan tersebut. Sebagai reaksi iapun membuat lukisan ‘tandingan ’ yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro dan selesai dilukis pada tahun 1857.  

Penangkapan Pangeran Diponegoro, Raden Saleh

Penyerahan Pangeran Diponegoro, Nicolaas Pieneman

Ada beberapa perbedaan mencolok dari kedua lukisan dengan tema yang sama tersebut. Pada lukisan Pieneman Pangeran Diponegoro digambarkan berwajah lesu seperti sudah pasrah dengan nasibnya ketika ditangkap sedangkan Jenderal De Kock berdiri berkacak pinggang di belakangnya seperti seorang pemenang. Lukisan Raden Saleh menggambarkan secara berbeda dimana raut muka Pangeran Diponegoro yang seperti menahan marah karena merasa dibohongi, sedang sang Jenderal seperti agak sungkan menarik Pangeran untuk masuk ke kereta tahanan. Kesalahan yang dibuat oleh Pieneman yang lain adalah pakaian yang dipakai pengikut Pangeran Diponegoro yang kebanyakan memakai pakaian ala Arab. Ini membuktikan bahwa Pieneman sendiri tidak memahami kehidupan pribumi Jawa karena ia sendiri memang belum pernah ke Hindia Belanda. Raden Saleh yang sangat mafhum dengan adat istiadat Jawa tentu menggambarkannya dengan lebih akurat dimana para pengikut Pangeran kebanyakan memakai blangkon dan pakaian Jawa, bahkan ada yang berbatik. Hal lainnya yang juga kurang dipahami oleh Pieneman adalah tentang pemahaman budaya pengikut Pangeran Diponegoro yang kebanyakan muslim. Raden Saleh menggambarkan bahwa Pangeran Diponegoro dan pengikutnya menemui Jenderal de Kock tanpa membawa senjata apapun sebagai itikad baik untuk memulai perundingan damai. Harap diketahui bahwa perundingan tersebut terjadi saat Bulan Puasa yang merupakan bulan yang dianggap tabu untuk berperang bagi umat muslim. Sedangkan pada lukisan Pieneman digambarkan beberapa alat perang seperti tombak dan semacamnya yang dijatuhkan di tanah sebagai tanda menyerah.
Dengan koreksi terhadap karya pendahulu yang dibuat oleh Pienemann maka bisa dilihat bagaimana reaksi seorang Raden Saleh terhadap kondisi masyarakat pribumi dan tanah airnya pada saat itu. Ia bahkan menunjukannya dengan cara yang kreatif dalam sebuah karya yang masih bisa dilihat dan dinikmati hingga saat ini. Dengan berbagai prestasi di dunia seni ia banyak memperoleh penghargaan dari beberapa negara di Eropa. Ia bahkan mendapat gelar anumerta dari Pemerintah Indonesia pada tahun 1969 sebagai penghargaan yang biasanya diberikan terhadap seorang pahlawan nasional yang sudah meninggal. Bahkan beberapa karyanya pernah dijadikan gambar di perangko yang dibuat pemerintah Indonesia.  
Dalam dunia seni nasional Raden Saleh mampu membuka pintu baru bagi perkembangan seni di tanah air, sehingga terus berkembang hingga saat ini. Ia berhasil menjembatani perkembangan seni rupa Indonesia dari yang tadinya bersifat dekoratif dan tradisionalis menjadi lebih dinamis dan sering kali reaktif terhadap perkembangan zaman. Karena itu tidak salah kalau Raden Saleh bisa disebut sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.   

Komentar