MENGUPAS TENTANG SENI TULISAN ARAB YANG INDAH



Salah satu bentuk seni dalam tulisan yang paling populer adalah seni tulisan arab. Bentuk kaligrafi ini kadang juga disebut sebagai seni kaligrafi Islam. Itu karena dunia Islam adalah yang paling banyak menggunakan bentuk seni tulisan ini. Seni tulisan arab ini digunakan di banyak bidang di dunia
Islam. Diantaranya dari yang resmi, seperti untuk kantor dan dunia pendidikan atau yang murni untuk berkesenian.

Seni tulisan arab ini berkembang dan semakin meluas ke berbagai bagian dunia. Bahkan ada pengembangan lebih lanjut ketika bentuk kaligrafi arab yang asli lantas dipengaruhi oleh budaya daerah. Salah satunya adalah Khat Sini yang merupakan akulturasi antara tulisan arab dengan kaidah penulisan di cina.

Khat Sini karya Kaligrafer China Haji Noordin Mi Guang Jiang

Ekspansi islam dalam bentuk perdagangan juga memiliki andil. Dunia perdagangan arab di masa lalu telah mencapai daerah yang sangat luas. Diantaranya yang terjauh adalah hingga Cina, India, Asia Tenggara (utamanya Indonesia dan Malaysia) dan banyak daerah lain. Dengan demikian penggunaan tulisan arab juga semakin tersebar di wilayah-wilayah tersebut.
Seni tulisan arab ini sendiri adalah suatu bentuk seni ornamen. Tidak hanya sebagai bentuk seni tulisan di kertas tetapi juga sebagai penghias ruangan bahkan bangunan. Sangat banyak contohnya kaligrafi arab yang digunakan menghiasi bangunan tertentu. Utamanya adalah bangunan keagamaan Islam, seperti masjid dan madrasah. Itu karena seni tulisan arab berkembang pesat di wilayah yang sebagian besar penduduknya memeluk Agama Islam.
Alasan lain bentuk seni kaligrafi Arab begitu berkembang adalah karena ada doktrin tertentu yang menyertainya. Banyak pemikir islam yang terdahulu menganggap bahwa penggambaran makhluk hidup sebaiknya tidak dilakukan. Itu karena ada anggapan bahwa ada doktrin agama yang berbunyi demikian. Karena tidak adanya pengembangan dalam seni yang menggambarkan mahluk hidup maka bisa dibilang seniman, dan penulis, lantas mengembangkan kegiatan berkesenian dalam bentuk tulisan dan dekorasi lain. Dari situ lantas seni tulisan Arab terus berkembang.

Huruf Hijaiyah dan Harakat Dalam Tulisan Arab

Huruf dasar untuk tulisan Arab terdiri dari 29 jenis huruf yang mewakili bunyi tertentu. Huruf ini dinamai dengan Huruf Hijaiyah. Berikut ini ke 29 huruf tersebut.


Huruf Hijaiyah

Yang ditulis dalam tulisan arab tidak hanya bentuk huruf utamanya saja. Selain huruf utama ada juga tambahan dekorasi pada huruf. Yang paling utama dari dekorasi tersebut adalah beberapa simbol yaitu Fatah, Dhomah, Kasrah, Sukun, Tanwin, dan Tasdiid. Dekorasi huruf ini disebut juga HarakatHarakat tulisan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghias. Lebih dari itu fungsinya juga sebagai penanda bunyi vokal atau memberi penekanan bunyi pada huruf tertentu.


Harakat Huruf Hijaiyah


Fatah untuk penanda bunyi A, Kasrah untuk I, Dhomah untuk U, Tanwin untuk menandai bunyi AN, IN atau UN, Sukun sebagai tanda sebuah huruf menjadi bunyi terakhir pada sebuah ucapan (misal untuk ucapan MAN maka pada huruf M/Mim diberi tanda fatah sedangkan N/Nun diberi tanda nun), sedangkan tassdid gunanya hampir seperti sukun hanya dengan penekanan bunyi huruf yang lebih. Perlu diketahui bahwa pada huruf dasar Arab tidak ada bunyi huruf Vokal yang berdiri sendiri sebagaimana huruf Latin yang memiliki AIUEO sebagai penanda bunyi vokal. Meski ada huruf Hamzah yang bunyi aslinya adalah A pada penulisannya tetap diperlukan tanda Fatah untuk menyebutkan bunyi A tersebut, atau Dhomah untuk U, atau Kasrah untuk I. Oleh karena itu pada tulisan Arab ditambahkan dekorasi Harakat diatas sebagai penanda bunyi. Pada perkembangannya dibuat juga beberapa dekorasi tulisan lain tetapi fungsinya lebih sebagai penghias saja. Selain itu tidak semua jenis Khat menggunakan dekorasi tambahan tersebut.
Karena penyebaran penggunaan tulisan Hijaiyah tersebut kadang ada juga tambahan dari budaya lokal yang memberi tanda untuk bunyi tertentu. Misal pada tulisan Arab di Jawa ada tambahan beberapa huruf seperti berikut


Tambahan huruf pada abjad Arab Jawa

Selain itu ada juga tambahan harakat untuk penanda bunyi pada Arab Jawa seperti berikut.


Tanda dan beberapa huruf diatas digunakan karena kadang ada pennulisan Bahasa Jawa dengan huruf Arab yang memerlukan bunyi vokal E dan bunyi konsonan seperti tersebut diatas. Pada tulisan aslinya yaitu tulisan Arab tidak digunakan beberapa huruf dan tanda tersebut karena Bahasa Arab yang asli sendiri tidak tidak mengandung bunyi seperti diatas.

Khat/Tipografi Tulisan Arab

Bentuk tipografi tulisan Arab sebenarnya banyak dan beragam. Meski begitu tidak semua bentuk lantas dipakai di semua wilayah yang terpengaruh budaya Islam. Itu terjadi karena kadang tipografi tersebut digunakan secara lokal saja. Alasan lainnya adalah karena kaidah penulisannya mungkin tidak dibakukan seperti tulisan latin. Meski begitu ada juga beberapa bentuk tipografi tulisan arab yang dibakukan kaidah penulisannya. Dengan demikian penggunaan beberapa bentuk tipografi tersebut pun sangat luas. Bahkan ada yang menganggap bahwa beberapa bentuk tipografi tulisan Arab tersebut sebagai standar untuk penulisan karya tulis atau karya seni tulis berbahasa Arab.
Diantara bentuk tipografi yang umum digunakan dalam penulisan Arab adalah Khat Naskhi, Khat Tsulutsi, Khat Kufi, Khat Riq’ah, Khat Muhaqqaq, Khat Nasta’liq (disebut juga Khat Farisi), dan Khat Diwani. Nanti akan dijelaskan lebih lanjut masing-masing bentuk tipografi atau Khat Arab tersebut. Masing-masing bentuk tipografi tulisan arab tersebut didahului dengan kata Khat. Khat sendiri secara etimologi berarti garis. Sedangkan pengertian umumnya adalah konstruksi bentuk, garis dan desain dari tulisan Arab.
Seperti disebutkan diatas bahwa bentuk tipografi tulisan Arab bermacam-macam. Meski begitu tidak semuanya memiliki kaidah yang baku. Sedangkan yang memiliki kaidah baku dan penggunaannya tersebar luas hanya beberapa Khat seperti yang disebut diatas. Untuk masing-masing Khat atau tipografi Arab tersebut akan dibahas lebih lanjut berikut ini.

Khat Naskhi

Contoh penulisan Arab dengan Khat Naskhi

Khat Naskhi adalah bentuk tulisan tipografi yang paling sering digunakan dalam tulisan Arab. Utamanya adalah untuk menulis naskah atau artikel. Sedangkan penggunaannya sebagai karya seni mungkin tidak terlalu sering. Penggunaan Khat Naskhi sendiri secara luas untuk menulis naskah adalah karena kepraktisannya. Konon dengan menggunakan Khat Naskhi maka penulisan artikel arab tertentu bisa lebih cepat.
Gaya tulisan Arab Naskhi ini mulai sering digunakan pada abad 10 M. Yang mengembangkannya adalah seorang kaligrafer Arab bernama Ibnu Mulhaq. Ia juga yang konon membuat kaidah penulisan gaya tulisan ini. Penggunaan Naskhi juga menandai popularitas gaya bentuk huruf yang mengkurva atau membulat. Sebelumnya naskah Arab biasanya ditulis dalam gaya Kufi yang cenderung berkarakter kaku dan cenderung bersudut. Penggunaan Khat Naskhi secara luas juga pada akhirnya mempengaruhi perkembangan bentuk dan karakter tulisan Arab gaya lainnya, seperti Muhaqqaq dan Tsuluts.

Khat Kufi

Gaya tulisan Arab yang juga banyak digunakan adalah Khat Kufi. Dalam sejarah penulisan Bahasa Arab khat Kufi ini bisa dibilang sebagai Khat yang tertua. Sebelum digantikan oleh Naskhi untuk standar penulisan naskah Khat Kufilah yang banyak digunakan. Ciri khas karakter Khat Kufi ini adalah bentuknya yang cenderung kaku dan menyudut.

Kota Kufah di Iraq adalah pemberi kontribusi nama bagi gaya tulisan Arab ini. Khat ini mulai digunakan secara luas pada abad ke 8 untuk penulisan naskah dan Quran. Setelah digantikan oleh Khat Naskhi sebagai standar gaya tulis penulisan naskah fungsi Khat Kufi lantas berubah lebih sebagai gaya tulisan dekoratif. Dalam perkembangannya Khat Kufi ini juga ditambahkan dengan dekorasi lain, seperti dekorasi bentuk daun dan tambahan border atau juga dibuat dengan kesan bentuk tertentu, seperti bentuk kotak.

Khat Kufi dengan dekorasi berbentuk Floral


Khat Kufi berkarakter kotak

Ada juga satu perbedaan khusus antara Khat Kufi dengan gaya tulisan Arab lainnya. Khat Kufi adalah satu-satunya “Khat Standard” yang justru tidak memiliki kaidah penulisan khusus. Karena kegunaannya sebagai dekorasi maka cara penulisannya kadang ikut kemampuan kreasi yang menulisnya. Karena itu sering kali ditemukan seorang yang ahli menulis dengan Khat Kufi justru kurang menguasai Khat lainnya. Sebaliknya ada juga yang ahli dalam kaidah penulisan Khat selain Kufi tetapi kurang mampu membuat karya Khat Kufi yang bagus. Kemampuan untuk mengolah dekorasi justru yang paling berpengaruh ketika ingin membuat seni tulisan Arab dengan gaya tersebut.

Khat Thulut

Contoh karya Khat Tsuluts yang indah

Khat Thulut pada umumnya digunakan sebagai dekorasi ketimbang untuk penulisan naskah. Meski begitu Khat Naskhi sendiri yang berguna untuk menulis naskah adalah pengembangan dari khat Thulut ini. Gaya penulisan ini sangat populer terutama di masa dinasti Usmani. Nama Tsuluts secara harfiah berarti sepertiga. Gaya tulisan Arab ini disebut demikian karena pada sepertiga bagian setiap hurufnya dibuat melandai atau condong mengkurva. Penemu gaya tulisan Arab ini adalah seorang kaligrafer Arab yang bernama ibn Muqla al-Shirazi yang meninggal pada tahun 940 M. Munculnya Khat Thulut bisa jadi revolusi penulisan Arab. Gaya tulis Tsuluts yang cenderung mengkurva dan dinamis menggantikan gaya lama Kufi yang cenderung kaku dan menyudut. Lebih dari itu gaya tulisan Arab Tsuluts juga memberi trobosan baru dengan adanya harakat pada huruf. Sebelumnya tulisan Arab ditulis tanpa harakat sehingga tidak ada penanda bunyi. Bahkan tanda baca yang ditambahkan tidak hanya pada harakat yang dasar. Dalam Khat Tsuluts dibuat juga dekorasi lain yang fungsinya sekedar untuk memperindah tampilan.
Pengembangan gaya tulisan Arab Tsuluts juga membuat cara mengolah dan menumpuk huruf semakin beragam. Dalam Khat Naskhi atau Khat Kufi biasanya tulisan ditulis mengikuti garis seperti pada tulisan latin. Pada penulisan Khat Tsuluts penulisan huruf bisa dibuat menumpuk, bentuk melingkar atau dengan kreasi lain. Bahkan ada juga yang menulis Khat Tsuluts dengan bentuk tertentu seperti bentuk buah atau pohon.

Khat Riq’ah

Contoh tulisan dengan gaya Khat Riq'ah

Gaya tulisan Arab lain yang juga cukup populer adalah Khat Riq’ah. Secara umum Khat Riq’ah banyak digunakan sebagain gaya tulisan tangan, terutama pada masa Usmani. Yang menyebabkan demikian adalah kesederhanaan kaidahnya. Bisa dibilang mempelajari Khat Riq’ah cenderung lebih mudah dibandingkan dengan mempelajari Khat lain yang memiliki kaidah khusus. Karakter yang mudah dilihat dari gaya tulisan Arab ini adalah bentuknya yang cenderung linear. Selain itu garis yang menghubungkan antara satu huruf dan lainnya dalam satu kata lebih pendek. Pada Khat Tsuluts atau Naskhi bagian tertentu yang berupa garis datar bisa dipanjangkan sedangkan Riq’ah lebih ringkas dan pendek. Karena keringkasannya maka Khat jenis ini banyak digunakan sebagai gaya tulisan tangan. Tidak salah jika lantas gaya tulisan Arab ini disebut Riq’ah yang berarti sehelai kain.
Gaya tulisan Riq’ah muncul sebagai pengembangan dari Khat Naskhi dan Khat Tsuluts. Keduanya cenderung lebih rumit kaidahnya dibanding Riq’ah. Karena itu Khat Riq’ah jarang digunakan sebagai gaya tulisan untuk dekorasi ruangan atau buku karena kesederhanaan karakternya.

Khat Muhaqqaq

Contoh Lafaz Basmallah dengan Khat Muhaqqaq

Gaya tulisan Arab yang juga populer adalah Khat Muhaqqaq. Sekilas melihat karakter tulisan ini agak mirip dengan karakter Khat Tsuluts. Itu karena Khat Muhaqqaq sendiri merupakan pengembangan dari Khat Tsuluts. Karakter yang membedakannya dari Tsuluts adalah pada garis datarnya yang cenderung lebih lebar. Bagi para kaligrafer dan pecinta tulisan Arab biasanya Khat Muhaqqaq dianggap sebagai gaya tulisan yang konstruksi bentuknya paling indah.
Khat Muhaqqaq sendiri sering digunakan untuk menulis naskah dan mushaf Al Quran. Meski begitu tidak banyak naskah yang menggunakan gaya tulis Khat Muhaqqaq. Ini terjadi karena kaidah penulisannya lebih rumit dibanding gaya Khat lain yang umum digunakan untuk menulis naskah seperti Naskhi misalnya.
Khat Muhaqqaq paling sering digunakan terutama pada masa Mameluk (abad ke 3 hingga ke 6 Masehi). Seiring kemunduran dinasti ini akhirnya penggunaannya mulai jarang. Penggunaan Khat Muhaqqaq untuk penulisan umum akhirnya digantikan oleh popularitas Khat Naskhi dan Tsuluts semasa dinasti Usmani.

Khat Nasta’liq

Contoh tulisan Arab dengan Khat Nasta'liq

Khat Nasta’liq juga banyak dijumpai dalam karya seni tulisan Arab. Khat ini juga memiliki nama lain yaitu Khat Farishi. Dinamai demikian karena gaya tulisan Arab ini dikembangkan pertama kali di wilayah Persia (sekarang wilayah Iran dan Iraq). Sampai saat inipun Khat Nasta’liq merupakan gaya tulisan yang paling sering digunakan di wilayah tersebut baik untuk menulis artikel Arab maupun Persia. Pertama kali Khat Nasta’liq dikembangkan pada abad ke 14 hingga 15 dan penggunaannya semakin meluas ke wilayah sekitar seperti Afghanistan, Turki, Pakistan bahkan India.
Kata Nasta’liq yang menjadi nama Khat ini berasal dari dua kata yaitu Naskh dan Ta’liq. Konon Kaligrafer pengembangnya yang pertama yaitu Mir Ali Tabrizi (abad 14) menggabukkan karakter Khat Naskhi dengan Khat Ta’liq. Ta’liq sendiri secara etimologi berarti digantung atau tergantung. Nasta’liq sendiri merupakan bentuk penyempurnaan dari Khat pendahulunya yaitu Khat ta’liq. Gaya tulisan Ta’liq sendiri merupakan hasil adopsi penulisan Arab dengan gaya asli penulisan Persia. Ini terjadi setelah masyarakat di wilayah tersebut memeluk Agama Islam dan penulisan Bahasa Arab semakin umum. Persia pra-Islam sendiri memiliki wilayah yang ekstensif dan penyebaran budayanya hingga mencapai banyak wilayah. Karena itu budaya yang dibawa oleh masyarakat Persia juga diadopsi oleh berbagai wilayah tersebut termasuk gaya penulisan huruf.
Setelah masuknya Islam ke wilayah Persia maka akulturasi antara penulisan Arab dengan gaya tulis Persia lantas melahirkan yang disebut Gaya Ta’liq yang disebutkan tadi. Gaya inipun juga dipakai di daerah lain yang terpengaruh budaya Persia sebelumnya. Pada masanya ketika Khat Nasta’liq menggantikan gaya Khat Ta’liq maka gaya tulisan Arab inipun menjadi lebih populer di wilayah tersebut. Bahkan Khat Nasta’liq ini merupakan gaya tulisan Arab yang populer bagi etnis Uygur di Cina.
Diluar Persia penggunaan Khat Nasta’liq yang paling banyak juga ditemukan di Turki semasa pemerintahan Kesultanan Ottoman. Bahkan konon para ahli kaligrafi di Ottoman terpengaruh juga dengan gaya Nasta’liq ketika mengembangkan Khat Riq’ah dan Diwani. Ciri khas karakteristik khat ini adalah pada dua hal. Garis vertikal setiap huruf selalu tegak, pendek dan tidak terlalu tebal. Sedangkan garis horizontalnya sering ditulis panjang. Cara penulisan garis horizontal tersebut dengan menarik garis dari kanan atas lalu agak menurun ke kiri. Semakin ke kiri bentuknya cenderung semakin tebal. Itulah sebabnya bentuk tulisan Khat Nasta’liq seperti huruf yang digantung pada sesuatu.

Khat Diwani

Jenis tulisan Arab lainnya yang populer adalah Khat Diwani. Gaya tulisan Arab ini bisa dibilang sebagai salah satu Khat yang tercantik bentuknya. Khat Diwani juga termasuk bentuk tulisan Arab yang berkarakteristik mengkurva atau melengkung. Pengembangan jenis khat ini mencapai puncaknya ketika zaman Kesultanan Ottoman. Seorang kaligrafer terkenal bernama Housam Roumi adalah yang menemukan dan mengembangkan Khat ini selama abad ke 16. Diwani sendiri secara etimologi berasal dari kata Diwan yang berarti Kantor atau Dewan.  Disebut demikian karena pada masa tersebut Khat Diwani sering digunakan untuk menulis surat resmi pada instansi pemerintahan Ottoman. Karena sering juga digunakan untuk menulis surat rahasia maka tidak banyak orang yang benar-benar menguasai kaidah penulisan asli dari Khat ini.
Pada perkembangannya Khat Diwani terbagi menjadi dua jenis yaitu Khat Diwani Riq’ah (biasa) dan Khat Diwani Jalli.

Contoh Khat Diwani Riq'ah


Contoh Khat Diwani Jali


Khat Diwani Riq’ah tidak memiliki hiasan apapun dan ditulis apa adanya.
Sedangkan Khat Diwani Jalli memiliki tambahan hiasan dan ornamen sehingga hasil karya akhirnya terlihat indah.

Khat Diwani sering dipakai oleh ahli kaligrafi untuk membuat karya seni tulisan Arab yang indah. Karena keindahan artistiknya maka hingga kini sekalipun penggunaannya masih dipakai luas untuk penulisan surat resmi kenegaraan di beberapa negara tertentu. 

Komentar

Posting Komentar