Seni Jalanan, Seni Menakjubkan Yang Diolah di Tempat Umum


Sebagian besar orang mungkin memberi anggapan miring terhadap seni rupa jalanan. Padahal kreasi seni yang biasa dibuat di tempat umum itu justru bisa merubah suasana kota yang sering kali terasa sesak. Seni jalanan memang dianggap buruk oleh banyak orang karena anggapan yang salah kalau
bentuk seni tersebut identik dengan corat-coretan dan vandalisme. Sesuatu yang seharusnya memberi rasa keindahan justru membuat lingkungan jadi terlihat kotor. Tentunya memang ada saja orang yang memang mengekspresikan kenakalannya dengan cara yang kurang baik seperti itu. Dengan coret-coretan atau membuat graffiti yang kotor dan kadang menggambarkan gambar yang tidak baik justru membuat pelakunya merasa senang.



Padahal tidak selalu seperti itu. Ada juga orang yang memang berkreasi di jalan umum untuk membuat karya yang justru menarik, unik dan menyenangkan untuk dilihat. Seni rupa jalanan tersebut bahkan terus mengalami perkembangan pesat sehingga bentuk dan temanya pun semakin beraneka ragam. Tidak jarang juga kegiatan membuat kesenian di jalan malah didukung oleh pemerintah atau perusahaan tertentu untuk membantu memperindah lingkungan.


Mural di Las Palmas, Mexico yang disponsori Pemerintah, The Guardian.com
Mural ini dibuat untuk mengubah image wilayah yang tadinya menjadi pusat narkoba

Di sisi lain dengan keberadaan seni jalanan tersebut juga bisa mengisi ruang kosong di perkotaan. Daripada dirusak oleh para vandalis yang tidak bertanggung jawab lebih baik diolah oleh para seniman jalanan untuk berkarya.
Bagi para seniman jalanan berkarya di jalan umum dengan fasilitas umum menjadi kanvasnya punya maksud tersendiri. Berkarya di jalan tidak selalu melulu untuk mengekspresikan ide seninya saja. Lebih dari itu karya tersebut juga punya maksud untuk berkomunikasi dengan masyarakat umum. Karena karyanya memang di buat di tempat-tempat publik maka orang banyak pun mudah melihatnya. Ide awal dari pembuatan seni jalanan tersebut memang untuk mengekspresikan perasaan pembuatnya di tengah masyarakat. Sering kali karya yang dibuat adalah untuk merespon situasi yang terjadi. Boleh jadi karya yang dibuat adalah untuk mengajak orang melakukan sesuatu. Ada juga yang bermaksud sebaliknya yaitu untuk menolak keberadaan sesuatu. 
Banyak seni jalanan yang bermaksud untuk mengajak atau menolak sesuatu berisi propaganda yang dibuat pemerintah. Karena fungsi penyampaian pesan tersebut maka kadang justru pemerintah yang membuat karya seni jalanan tersebut untuk maksud tertentu. Alasannya adalah sebagai penyampai pesan yang paling mudah kepada masyarakat. Ada juga seniman yang membuat karya untuk merespon kebijakan pemerintah yang dianggap buruk, kondisi masyarakat yang kurang baik, ketidakadilan dll.

Poster yang mengajak rakyat Soviet untuk berjuang demi ibu pertiwi, sovietposter.com


Mural menolak keberadaan Amerika di Iran, Wikipedia.Org


Mural yang berisi penolakan Inggris keluar dari Uni Eropa, mg.co.za


Poster propaganda Korea Utara, Flickr.com

Meski fungsinya sebagai penyampai pesan nilai estetika tetap menjadi pertimbangan. Agar masyarakat tertarik untuk melihat tentu karya seni jalanan tersebut harus tampak menarik. Memang kadang suasana emosional ketika merespon situasi mendorong orang justru cenderung berbuat merusak. Vandalisme dalam bentuk coret-coretan dan graffiti yang berantakan dengan nada memusuhi sesuatu adalah bentuk ekspresi emosional tersebut. Itu juga yang lantas membuat masyarakat justru memberi pandangan miring terhadap seni jalanan.


Grafiti yang kotor dan acak-acakan, pinterest


Meski begitu sebenarnya perkembangan seni jalanan justru mengarah ke hal yang jauh lebih baik. Semakin banyak seniman yang justru berkesenian di ruang publik. Beberapa seniman kadang ada yang merasa jenuh dengan berbagai aturan estetisme ketika berkarya di studio seni. Karena itu mereka ingin berekspresi dengan lebih bebas di luar. Lama kelamaan kreasi-kreasi yang dibuat semakin beraneka ragam, baik tema, cara pengolahan, bentuk dan bahkan jenisnya.


Seni jalanan yang menarik karya David Walker, Street Art Avenue.com 


Seni jalanan sendiri pada dasarnya bukanlah barang baru. Jika menilik ke belakang seni jalanan sudah ada sejak lama sekali. Bahkan di era kuno pun bentuk seni jalanan sudah muncul. Bisa dibilang justru lembaga negara yang dulu menggunakan sarana tersebut untuk menyampaikan pesan ke masyarakat. Dengan membuat poster atau gambar di dinding maka keputusan pemerintah, atau informasi lainnya bisa lebih mudah disampaikan ke masyarakat. Kadang juga penggunaan seni yang biasanya dibuat ditembok tersebut adalah untuk acara ritual atau keagamaan. Tentu saja fungsi estetika dan ekspresi berkesenian belum terlalu dianggap perlu.


Hieroglyph Mesir, salah satu bentuk seni di dinding yang tertua, Pinterest

Seiring perkembangan zaman orang awam pun mulai senang berkreasi di tembok-tembok kota atau sarana umum lainnya. Sering kali mereka merespon situasi yang menimpa mereka dalam bentuk kreasi di jalanan. Seni jalanan sendiri semakin populer pada tahun 70 dan 80 an. Bisa begitu karena kondisi sosial dan politik di masa itu memang cenderung mendorong masyarakat umum mudah menjadi emosional. Bahkan ada yang bilang generasi yang lahir atau hidup di era tersebut disebut Gen X atau Generation X. Disebut begitu karena mereka cenderung anti kemapanan dan cenderung berpikir anarkis (dalam artian senang menolak aturan baku bukan senang kekerasan).


Mural ditembok Berlin, News.Artnet.com

Salah satu cara mereka berekspresi adalah membuat berbagai graffiti atau gambar yang cenderung memberontak. Gambaran dari “kreasi” tersebut bisa dilihat pada berbagai fasilitas umum yang dikotori oleh berbagai coretan, graffiti yang semrawut, dan gambar-gambar yang amburadul. Isinya sering kali pelecehan terhadap aturan negara atau kondisi yang tidak disenangi. Dengan begitu bentuk “ekspresi” tersebut justru membuat fasilitas umum menjadi tampak kotor.





Beberapa grafiti yang kotor di era 70 dan 80an, ilbe.com, Thewelcomeblog.com, Wikipedia

Disitulah juga istilah vandalism dalam bentuk coret-coretan mulai semakin umum. Masyarakatpun mulai menganggap bahwa seni jalanan tak lebih dari bentuk vandalism dan juga urakan. Padahal pandangan tersebut bisa dibilang salah kaprah.
Kalau dilihat lebih jauh sebenarnya banyak perbedaan antara vandalism berupa coret-coretan dan seni jalanan. Coret-coretan kotor pada fasilitas umum biasanya dibuat spontan dan begitu saja. Mereka melakukakannya karena kebetulan punya kesempatan untuk itu. Tidak ada perencanaan tentang apa yang mau dibuat dan tidak perlu konsep karya apalagi pertimbangan estetika. Yang ada di benak vandalis tersebut hanyalah sekedar keasyiikan saja untuk corat coret fasilitas umum. Sama seperti orang yang tidak bertanggung jawab yang merusak fasilitas umum hanya untuk iseng. Kadang juga sebagai bentuk kemarahan terhadap kondisi di masa itu. Mereka sering kali tak perduli kalau masyarakat sekitar merasa tidak nyaman dengan tindakan tersebut. Alih-alih sebagai penyampai pesan coret-coretan yang kotor justru menjadi hal yang dibenci orang.

Di sisi lain seorang seniman jalanan tentu memikirkan banyak hal ketika ia berkarya. Yang dilakukannya tidak sekedar mencurahkan ekspresinya di jalanan. Ia juga mempertimbangkan hal-hal yang bernilai estetis dan indah. Ia tentu ingin menyampaikan pesan atau ide tertentu kepada masyarakat melalui seni rupa jalanan yang dibuatnya. Karena ingin masyarakat memberi perhatian terhadap karya tersebut tentu sang seniman berusaha menggarapnya sebaik mungkin. Karya tersebut pada akhirnya membantu menghias kota sehingga tampak menarik. Dengan demikian karya yang dibuat tidak hanya sebagai sarana berekspresi atau penyampai pesan tetapi juga justru hiburan bagi masyarakat.




Proses pembuatan mural di dinding lorong di London, Youtube 

Seni jalanan bisa dibilang adalah salah satu bentuk seni yang berkembang dengan sangat pesat. Sejak tahun 80an hingga kini kreasi seni jalanan semakin beraneka ragam bentuknya. Jika mural adalah bentuk seni jalanan yang paling tua maka kini banyak seniman yang berkespresi dengan banyak media lain. Salah satu yang paling sering digunakan adalah cat spray. Cat spray sendiri dulu justru dianggap buruk oleh masyarakat karena media tersebut paling sering digunakan untuk coret-coretan. Meski begitu di tangan seniman kreatif karya yang dihasilkan pun menjadi sangat indah dan menarik.


Sebuah mural yang dibuat dengan cat spray disebuah jalan di Yogyakarta, Koleksi Pribadi

Selain cat spray banyak juga yang menggunakan cat tembok biasa untuk menghias dinding di sisi jalan. Seni mural ini seperti disebutkan diatas adalah seni jalanan yang tertua. Seiring perkembanganannya kreasi yang dihasilkan pun makin menarik dan beraneka ragam.


Sebuah karya mural yang sangat menakjubkan, Stpetemuraltour

Bahkan banyak seniman yang tidak hanya melukis di dinding yang berdiri tegak saja. Ada juga yang membuat karyanya pada berbagai fasilitas lain seperti trotoar, jalan raya, kendaraan umum dll.


Seni jalanan yang menakjubkan karya Kurt Wenner yang dibuat di trotoar, Designstack.com


Sebuah seni jalanan yang dibuat di dalam gerbong kereta, Designswan.com

Beberapa gedung atau bangunan yang sudah ditinggalkan juga seringkali menjadi “kanvas” bagi seniman jalanan.


Seni jalanan yang dibuat di gedung yang sudah ditinggalkan, Weburbanist.com

Selain dengan mural, penggunaan alat cetak melahirkan poster, pamflet dan semacamnya sebagai salah satu bentuk seni jalanan. Poster biasanya lebih berfungsi sebagai penyampai pesan ketimbang sebagai bentuk seni murni. Pesan tersebut bisa berisi propaganda, informasi, bahkan untuk mengiklankan sesuatu.


Poster jalanan, Hoof.net.au

Sekarang bahkan penggunaan teknologi semakin membuat seni jalanan semakin pesat perkembangannya. Media elektronik juga dijadikan sarana bagi beberapa seniman jalanan untuk berkarya. Salah satu yang paling populer adalah LED art.


Seni jalanan dengan lampu LED, Inhabitat.com

Sang seniman menggunakan lampu LED yang dibentuk dengan pola-pola tertentu. Pola yang dibuat akhirnya bisa membuat fasilita umum dimana kreasi LED itu berada menjadi tampak sangat menarik.
Ada juga seniman yang menggunakan proyektor dan computer atau laptop untuk berkarya seni di jalanan. Dengan alat-alat tersebut sang seniman bahkan bisa membuat benda bergerak seperti film animasi. Tentu yang ditampilkan adalah bentuk pola-pola menarik yang sudah dibuatnya terlebih dulu.


Seni jalanan menggunakan proyektor (Projection mapping) di Burj Al Khalifa, Dubai, Digitalprojection.com


Penggunaan teknologi untuk berkarya seperti disebutkan diatas juga memiliki keunggulan lain. Pada umumnya sarana yang digunakan cenderung lebih murah jika dibandingkan dengan cara tradisional. Selain itu energi yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak. Cakupan yang bisa dibuat dengan teknologi digital tersebut juga bisa lebih luas karena gambar bisa di zoom dengan mudah. Meski begitu karya seni digital tersebut tentu hanya bisa dinikmati pada waktu yang terbatas. Sedangkan karya dengan cat atau cat semprot cenderung lebih permanen. Selain itu karya digital tersebut tidak bisa dinikmati di semua waktu. Agar lebih jelas terlihat maka seni jalanan digital tadi biasanya di perlihatkan pada malam hari ketika lingkungan gelap. Mungkin saja dengan perkembangan teknologi kelak ada yang bisa membuat seni jalanan digital yang bisa muncul tanpa batasan waktu.
Dengan perkembangan yang sangat pesat seni jalanan bisa dibilang sudah memiliki pijakan kuat dalam dunia berkesenian. Boleh jadi kelak akan semakin banyak seniman terkenal yang berkreasi di jalanan dengan ide-ide kreatif mereka.


Komentar